IWA-2 adalah panduan penerapan Sistem Manajemen Mutu (SMM) ISO 9001 bagi lembaga pendidikan. IWA adalah singkatan dari International Workshop Agreement. International Workshop Agreement – 2 edisi pertama yaitu IWA-2:2003 diterbitkan pada tahun 2003 dan di setujui pada workshop yang diadakan di Acapulco, Mexico, pada bulan Oktober 2002. Edisi kedua yaitu IWA-2:2007 disetujui pada workshop yang diadakan di Busan, Korea pada bulan November 2006. Edisi kedua dari IWA-2 ini disusun oleh para peserta workshop yang terdiri dari 47 ahli dibidang pendidikan dan penjaminan mutu diantaranya guru, kepala sekolah, dosen, auditor, konsultan mutu, profesor, praktisi, pengamat pendidikan dan konsultan pendidikan. Hal ini memastikan IWA-2 dapat menjadi panduan yang cukup membumi bagi para praktisi pendidikan dalam menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001. Satu hal penting yang harus diperhatikan bahwa IWA-2 adalah sebagai panduan, dan bukanlah suatu persyaratan (requirements) sebagaimana ISO 9001. Jadi tidak boleh sebagai pengganti ISO 9001 dan tidak dapat dijadikan acuan kontrak dalam peninjauan kesesuaian maupun untuk keperluan sertifikasi.

Petunjuk penerapan IWA-2 dalam lembaga pendidikan memiliki klausul – klausul yang hampir sama dengan klausul – klausul dalam ISO 9001. Namun, beberapa klausul yang ada pada ISO 9001 disesuaikan dengan kondisi yang ada pada lembaga pendidikan. Dikarenakan IWA-2 ini merupakan petunjuk penggunaan dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 maka prinsip – prinsip IWA-2 juga menggunakan 8 (delapan) prinsip yang ada pada ISO 9001. Namun, karena kekhasan dari lembaga pendidikan, maka prinsip – prinsip yang ada pada ISO 9001 tersebut ditambah lagi dengan 4 prinsip keberhasilan berkelanjutan khusus dalam IWA-2. Sehingga jumlah keseluruhan ada 12 prinsip manajemen mutu lembaga pendidikan. Delapan prinsip manajemen mutu lembaga pendidikan dalam IWA-2, adalah sebagai berikut :

 

Prinsip pertama, Process Approach

Prinsip ini dilatarbelakangi oleh asumsi bahwa hasil keluaran yang baik kemungkinan besar dihasilkan oleh proses yang baik pula. Hasil keluaran dari lembaga pendidikan merupakan hasil keluaran yang sukar diukur secara singkat dan bukan hasil keluaran yang langsung dapat dilihat hasilnya, maka penekanan pada proses merupakan hal yang sangat penting dalam lembaga pendidikan. Dalam kaitan dengan proses yang dilakukan, harus dirancang agar proses tersebut terkait dengan visi lembaga pendidikan. Visi lembaga pendidikan harus mengandung unsur – unsur kompetensi hasil pembelajaran yang dilakukannya serta mengadopsi berbagai kebutuhan dan harapan seluruh pemangku kepentingan terhadap kompetensi yang ingin dihasilkan oleh lembaga pendidikan. Dengan demikian proses yang dilakukan oleh lembaga pendidikan adalah proses yang menuju ke arah pencapaian kompetensi dan juga proses yang mengarah kepada peningkatan dalam memenuhi kebutuhan dan harapan seluruh pelaksana kepentingan.

Prinsip kedua, Understanding Core Competence (Customer Focus)

Adanya prinsip ini mengindikasikan bahwa sumber daya manusia (SDM) merupakan bagian yang sangat penting dalam lembaga pendidikan. Berbagai kegiatan pendidikan, merupakan kegiatan yang sangat erat kaitannya dengan budaya, keterampilan, penggunaan teknologi, penggunaan dan pemanfaatan keilmuan. Semua kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang membutuhkan kompetensi pendidik dan kompetensi prasyarat bagi peserta didik. Tenaga pengajar yang memberikan pengajaran pada satu bidang studi, harus memiliki kompetensi di bidang tersebut. Itulah sebabnya kompetensi merupakan bagian penting dari lembaga pendidikan. Saat ini persaingan merupakan hal yang secara alami akan terjadi, maka lembaga pendidikan harus memiliki kemampuan untuk memberikan nilai tambah dan inovasi terhadap berbagai hasil keluarannya. Nilai tambah tersebut akan sangat baik jika pada masing – masing lembaga pendidikan memiliki jenis nilai tambah yang berbeda – beda. Perbedaan pada nilai tambah inilah yang kemudian akan menjadi daya saing pada lembaga pendidikan.

 

Prinsip ketiga, Total Optimization (Systems Approach to Management)

Dalam prinsip ini terkandung pengertian bahwa penerapan IWA-2 di lembaga pendidikan harus mendasarkan pada proses yang maksimal di seluruh kegiatan. Dalam lembaga pendidikan selalu ada dua kegiatan utama, yaitu kegiatan yang berkaitan dengan administratif dan kegiatan yang berkaitan dengan akademik. Optimalisasi proses harus dilakukan pada seluruh kegiatan baik pada kegiatan administratif maupun akademis. Optimalisasi pada kegiatan administratif dilakukan di seluruh proses pelayanan, sedangkan optimalisasi pada kegiatan akademis dilakukan pada proses pembelajaran.

 

Prinsip keempat, Visionary Leadership

Kepemimpinan menjadi penentu utama perkembangan dan kemajuan organisasi, termasuk juga di dalam lembaga pendidikan. Sebagai nahkoda utama lembaga pendidikan, pemimpin akan menentukan arah dan tujuan yang akan di tempuh. Disinilah akan ditentukan tingkat kevisioneran seorang pemimpin. Dalam iklim dengan perubahan yang sangat cepat tersebut kesinambungan organisasi dan implementasi IWA-2 di lembaga pendidikan akan sangat tergantung kepada visi lembaga pendidikan. Visi lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh kepemimpinan lembaga pendidikan itu sendiri, oleh karena itulah kepemimpinan yang visioner menjadi prinsip dalam implementasi IWA-2. Pencapaian visi lembaga pendidikan tidak dapat dilakukan jika tidak dioperasionalkan dalam bentuk yang lebih teknis. Itulah sebabnya lembaga pendidikan harus mendorong tahapan – tahapan kegiatan untuk pencapaian visi lembaga pendidikan melalui berbagai kebijakan, dan kemudian merumuskannya ke dalam operasional.

 

Prinsip kelima, Factual Approach

Prinsip ini mengindikasikan bahwa implementasi IWA-2 di lembaga pendidikan harus berdasarkan pada data. Hal ini menuntut adanya berbagai proses pencarian data. Proses  tersebut dilakukan dengan melalui proses pengukuran atau penilaian. Dari hasil pengukuran dan penilaian tersebut kemudian dilakukan analisa data. Dari hasil analisa inilah data dan fakta yang terjadi kemudian dipakai pijakan dalam proses pengambilan keputusan. Adanya prinsip ini akan menghindarkan berbagai proses pengambilan keputusan yang subyektif. Dalam prinsip pendekatan berdasarkan fakta ini, berbagai tindak perbaikan dapat dilakukan dengan tepat dan efisien, dan yang terpenting, fakta – fakta yang ada dan analisa yang dilakukan terhadap berbagai fakta tersebut merupakan pijakan kuat untuk melaksanakan pengembangan lembaga pendidikan.

 

Prinsip keenam, Collaboration with Partners

Pada prinsip ini terkandung makna jika sebuah organisasi memiliki hubungan yang saling menguntungkan dengan pemasok maka organisasi tersebut akan dapat menghasilkan hasil keluaran yang berkualitas sesuai dengan persyaratan yang ditentukan. Lembaga pendidikan merupakan organisasi yang paling kompleks berkaitan dengan partner. Kompleksitas hubungan antara lembaga pendidikan dengan partner tersebut dikarenakan karakteristik lembaga pendidikan yang bertujuan menghasilkan SDM yang berkualitas.

 

Prinsip ketujuh, Involvement of People

Dalam prinsip ini terkandung makna bahwa sangat sulit untuk menghasilkan suatu hasil keluaran atau layanan yang bermutu jika masih ada SDM yang tidak terlibat dalam upaya menghasilkan hasil keluaran atau layanan yang bermutu tersebut. Baik buruknya kegiatan pembelajaran sangat tergantung dari kegiatan individual guru / dosen dalam proses pembelajaran tersebut. Banyaknya SDM yang tidak terlibat dalam kegiatan implementasi sistem manajemen mutu maka akan semakin berat bagi dihasilkannya suatu lulusan yang bermutu. Hal tersebut disebabkan lulusan yang bermutu dibangun dari berbagai kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh pelaksana pendidikan.

 

Prinsip kedelapan, Continuous Improvement

Dalam IWA-2, prinsip ini lebih ditekankan pada proses pembelajaran baik itu pembelajaran pelaksana pendidikan maupun pembelajaran peserta didik. Proses pengembangan berkelanjutan pada proses pembelajaran adalah suatu upaya untuk selalu meningkatkan kompetensi peserta didik sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan para pelaksana kepentingan. Tuntutan kebutuhan para pelaksana kepentingan tersebut meliputi kebutuhan pengguna lulusan, kebutuhan profesional, maupun kebutuhan masyarakat. Sedangkan proses pengembangan berkelanjutan pada organisasi diarahkan untuk meningkatkan kemandirian dan daya saing lembaga pendidikan dalam menghadapi berbagai persaingan baik pada skala nasional, regional maupun internasional. Namun demikian, proses pengembangan berkelanjutan tidak dapat dilaksanakan jika para pemangku kepentingan tidak mengetahui sejauh mana organisasi lembaga pendidikan melaksanakan berbagai kegiatan mutu pada saat ini. Itulah sebabnya lembaga pendidikan harus memiliki berbagai data dari apa yang telah dilakukan pada saat ini, proses pengambilan data harus dilakukan secara periodik melalui suatu kegiatan pengukuran di seluruh wilayah lembaga pendidikan. Kegiatan tersebut dapat dilakukan dalam bentuk mengevaluasi, pengawasan dan audit internal. Analisa berbagai data tersebut itulah yang kemudian akan dijadikan pijakan dalam proses pengembangan secara berkelanjutan.

 

Disamping 8 prinsip IWA-2 di atas, terdapat pula 4 prinsip tambahan yang dijadikan dasar untuk pencapaian keberhasilan lembaga pendidikan secara berkelanjutan. Prinsip – prinsip tambahan tersebut adalah sebagai berikut :

 

Pertama, Creating Learner Value

Prinsip ini merupakan prinsip yang digunakan oleh IWA-2 untuk mendorong organisasi pendidikan memberikan nilai tambah pada berbagai hasil keluaran/ layanan yang dihasilkan oleh lembaga pendidikan, prinsip ini dimaksudkan untuk mendorong peserta didik (learner) untuk merasa puas dengan nilai atau manfaat yang mereka terima. Kepuasan ini diukur untuk menentukan sampai berapa jauh kebutuhan dan harapan dari peserta didik telah terpenuhi. Nilai tambah dapat berbentuk banyak hal, mulai dari keterampilan dalam lingkup hard skill sampai dengan kecakapan dalam wilayah soft skill. Proses pembentukan nilai tambah tersebut akan sangat baik jika dilakukan melalui berbagai pengukuran tentang kebutuhan dan harapan mahasiswa terhadap berbagai nilai tambah yang diinginkan.

 

Kedua, Focusing on Social Value

Hal ini terkait dengan bagaimana peserta didik dan pihak – pihak terkait lainnya memiliki kemampuan dalam mengadopsi etika dan menjadikannya pijakan dalam perilaku sehari – hari, kemampuan dalam mewujudkan keamanan baik bagi dirinya, keluarga dan masyarakatnya, serta adanya perasaan mencintai lingkungan hidup merupakan nilai – nilai sosial universal yang juga sangat penting sebagai nilai tambah dari suatu hasil keluaran pendidikan.

 

Ketiga, Agility

Ini merupakan prinsip pokok yang harus dilakukan oleh lembaga pendidikan. Hal tersebut dikarenakan lembaga pendidikan memiliki tugas utama untuk meningkatkan kualitas SDM utamanya berkaitan dengan kecerdasan. Dimilikinya kecerdasan akan memberikan kemampuan kepada peserta didik untuk selalu belajar secara mandiri dalam kondisi apapun. Kondisi ini pada akhirnya akan memberikan kemampuan pada peserta didik untuk dapat berubah seiring dengan perubahan lingkungan yang drastis.

 

Keempat, Autonomy,

Prinsip ini merupakan prinsip yang bertujuan untuk kemandirian dan kemudian memberikan daya pembeda pada organisasi pendidikan. Daya pembeda tersebut adalah merupakan suatu upaya dari lembaga pendidikan untuk memberikan nilai tambah kepada peserta didik. prinsip ini didasarkan pada analisa lingkungan dan analisa diri. Setiap organisasi pendidikan harus memutuskan sendiri tentang nilai – nilai dan melakukan langkah – langkah yang sesuai, dan tidak dipengaruhi hal – hal lain agar tidak bias.

 

Demikian ulasan mengenai kedua belas prinsip manajemen mutu lembaga pendidikan, meskipun bukan sebuah standar yang dapat dijadikan tujuan sertifikasi sebuah lembaga pendidikan, namun standar ini dapat memberikan arahan dan pemahaman dalam menyiapkan dan menyusun dokumentasi yang teruji sebagai dasar penerapan dan evaluasi, serta strategi penerapan IWA-2 bagi lembaga pendidikan yang berkomitmen menghasilkan hasil keluaran dan layanan bermutu, kinerja tingga, bahkan berstandar internasional.