Dinas Bangunan dan Penataan Ruang (DBPR) Tangerang Selatan akan meningkatkan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) bagi para pekerja bangunan yang sedang mengerjakan proyek pemerintah kota. Hal tersebut ditekankan setelah seorang pekerja bangunan, MU (26) tahun tewas terjatuh dari lantai dua proyek pembangunan Rumah Sakit Umum (RSU) Tangerang Selatan. Sebelum mengalami kecelakaan korban bekerja sesuai dengan prosedur dan dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri (APD) seperti full body harness, safety helmet , sepatu safety dan rompi. Namun karena kurang berhati-hati saat akan bepindah lokasi diketinggian korban akhirnya terjatuh dari lantai dua gedung RSU Tangerang Selatan. Korban yang mengalami luka serius pada bagian kepala langsung dilarikan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) oleh rekannya sesama pekerja bangunan. Setelah mendapatkan perawatan selama 15 menit, korban akhirnya meninggal dunia. Ujar Kepala Dinas Bangunan dan Penataan Ruang (DBPR) Bapak Judianto kepada Kompas.com, Kamis (19/12/2019). 

Professional Kaiyuan Hardhats To Safety Helmet Descriptions - Buy Safety  Helmet,Safety Helmet Description,Hardhats To Helmets Product on Alibaba.com

Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) pada saat bekerja merupakan kewajiban bagi para pekerja yang bekerja di area yang memiliki potensi bahaya. Contoh dari APD yang sering digunakan adalah pelindung kepala (safety helmet), karena sudah banyak kasus pekerja yang tertimpa benda di bagian kepala mereka mengalami kecacatan bahkan kematian. Setiap tahun, tidak sedikit pekerja yang tewas dan mengalami cedera kepala akibat kecelakaan kerja. Berdasarkan data dari Occupational Safety and Helath Administration (OSHA), kecelakaan kerja yang mengakibatkan cedera kepala ini paling banyak terjadi di area konstruksi. Pada tahun 2015, OSHA mencatat lebih dari 25.000 cedera kepala dan 36 kematian pekerja yang diakibatkan oleh kecelakaan di sektor konstruksi. Data tersebut menunjukkan bahwa bekerja di area konstruksi mengandung berbagai risiko yang membahayakan nyawa pekerja. Oleh sebab itu, pemakaian safety helmet sangat penting untuk melindungi para pekerja di lokasi tempat kerja. Safety helmet merupakan salah satu APD yang sangat penting dan wajib digunakan oleh para pekerja lapangan atau pekerja proyek. Bekerja di lapangan tentu sangat membutuhkan proteksi yang tinggi mengingat resikonya yang dihadapi juga besar. 

 

Safety helmet secara resmi pertama kali dikembangkan pada tahun 1912 oleh Worker’s Accident Insurance Institute Kerajaan Bohemia. Pada awalnya terdapat para pekerja yang bekerja di galangan kapal menggunakan aspal kering atau yang sudah mengeras setelah dijemur dibawah terik matahari sebagai pelindung kepala agar kepala mereka tidak tertimpa benda-benda yang berada di atas geladak kapal yang sedang mereka bangun. Manfaat atau tujuan pekerja wajib menggunakan safety helmet adalah agar terlindung dari berbagai bahaya antara lain, seperti benda jatuh dari atas, benturan dengan benda keras lain dari samping, sengatan listrik di kepala dan terpaan angin yang membahayakan. 

 

Salah satu wujud penerapan sistem keselamatan kerja antara lain adalah dengan penerapan kepatuhan atau kedisiplinan bagi para pekerja untuk memakai safety helmet di lokasi tempat kerja agar mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Dengan adanya peraturan terkait pentingnya pemakaian safety helmet, maka diharapkan pekerja akan tetap tertib saat memakai safety helmet baik pada saat ada pengawas maupun tidak. Disamping pentingnya penggunaan safety helmet, pemberian warna pada safety helmet juga perlu untuk diperhatihkan. Dalam pemberian warna pada safety helmet dipilih warna-warna yang mencolok, bertujuan untuk mempermudah pekerja terlihat saat berada di suatu area yang luas atau gelap. Peraturan mengenai warna safety helmet bukanlah merupakan hal yang baku dan dapat berbeda-beda di setiap perusahaan, organisasi atau negara. 

 

Adapun fungsi lain yang tidak kalah penting dalam penentuan warna pada safety helmet adalah untuk membedakan setiap pekerja berdasarkan fungsi dan peran pekerja berdasarkan warna pada safety helmet yang dikenakan. Sehingga, dengan melihat warna pada safety helmet para pekerja atau pihak luar yang datang ke lokasi tempat kerja dapat mengetahui peran setiap pekerja dalam suatu proyek atau tempat kerja. Contoh dari perusahaan yang banyak menggunakan safety helmet antara lain adalah konstruksi (proyek konstruksi jalan, jembatan dan bangunan), pertambangan, minyak dan gas, dan lain sebagainya. 

 

Secara umum terdapat 9 jenis warna dasar yang dapat membantu perusahaan dalam mengidentifikasi tugas atau jabatan pekerja berdasarkan warna safety helmet yang dikenakan. Safety helmet warna kuning biasanya dipakai oleh operator, seperti operator mesin, sub kontraktor dan pekerja umum. Para pekerja yang menggunakan safety helmet berwarna kuning tersebut juga wajib mengenakan rompi berwarna kuning atau hijau terang saat melakukan tugasnya di lapangan. Warna kuning memang terlihat mencolok jika digunakan oleh pekerja. Manfaat dari warna yang mencolok tersebut adalah agar para pekerja lebih mudah terlihat dan jika terdapat kendaraan atau alat berat yang akan lewat dapat melihatnya dengan mudah, sehingga diharapkan dapat mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja. 

 

Safety helmet  warna biru biasanya dipakai oleh supervisor lapangan atau site supervisor, pekerja yang berhubungan dengan kelistrikan atau electrician, konsultan teknik, operator teknis, pengawas sementara dan tenaga ahli di bangunan kayu (carpenters). Tetapi, pada kenyataan yang ada di lapangan, safety helmet ini lebih sering di gunakan oleh operator alat-alat berat seperti operator bulldozer, forklit dan crane. 

 

Safety helmet warna hijau biasanya dipakai oleh para pengawas lingkungan dimana warna hijau sendiri mencerminkan tentang lingkungan. Dalam kawasan proyek, pengguna safety helmet hijau kebanyakan dari pengawas lingkungan atau peneliti lingkungan yang berhubungan dengan sesuatu yang tengah dibangun. Sehingga orang-orang yang mengenakan safety helmet proyek warna hijau ini biasanya adalah orang yang paling tmengetahui tentang keadaan lingkungan proyek maupun di sekitarnya. Di beberapa perusahaan besar terdapat bagian khusus seperti pertamanan (berhubungan dengan taman), dan landscaping. Tetapi, di beberapa perusahaan ada juga yang menggunakan safety helmet warna hijau bagi pekerja baru atau pekerja dalam masa probation

 

Safety helmet  warna merah biasanya dipakai oleh pengawas sistem keselamatan atau safety officer. Safety officer merupakan orang yang bertanggung jawab untuk memeriksa apakah sistem keselamatan sudah berfungsi sesuai dengan standar yang ditetapkan atau belum. Safety helmet berwarna merah juga biasa digunakan oleh tim pemadam kebakaran. Safety helmet  warna merah muda atau pink biasanya dipakai untuk pekerja baru atau magang. Ketika ada pekerja kehilangan atau lupa membawa safety helmet, mereka juga bisa menggunakan helm berwarna pink untuk sementara waktu. Safety helmet warna putih dipakai oleh orang yang mempunyai peranan atau jabatan tertentu atau jabatan tinggi di dalam suatu proyek, biasanya ada di kawasan konstruksi. Adapun jabatan yang dimaksud antara lain seperti Manajer, Pengawas, Insinyur dan Mandor. Mereka yang mengenakan safety helmet putih tersebut biasanya memiliki tanggungjawab dan pengetahuan yang lebih besar dibanding pekerja lainnya. Sehingga apabila ada yang berkunjung ke suatu proyek, dapat menanyakan mengenai detail proses pembangunan atau konstruksi kepada orang yang mengenakan safety helmet warna putih. 

 

Safety helmet warna coklat biasanya dipakai oleh pekerja yang berhubungan dengan pekerjaan yang menghasilkan kondisi panas tinggi, misalnya tukang las atau welder. Safety helmet warna oranye atau jingga biasanya dipakai oleh tamu perusahaan, yaitu orang-orang di luar pekerja konstruksi yang ingin masuk dan meninjau kawasan tersebut. Biasanya juga perusahaan akan memberikan atau meminjamkan safety helmet berwarna oranye untuk dikenakan tamu selama mereka berada di lokasi kerja yang berbahaya di perusahaan. Selain safety helmet oranye untuk pengunjung proyek, terdapat pula safety helmet abu-abu yang fungsinya sama yaitu untuk dipakai oleh pengunjung proyek. Dalam pemakaian Safety helmet pasti tidak terhindar dari kerusakan atau benturan. Safety helmet yang mengalami kecacatan atau kerusakan sedikit saja harus segera diganti dengan safety helmet yang baru untuk kepentingan keselamatan. Di negara Indonesia tidak memiliki standar khusus terkait jenis warna pada safety helmet. Namun, Indonesia memiliki regulasi nasional yang terkait dengan safety helmet, yakni SNI ISO 3873:2012 tentang Helm Keselamatan Industri dan Permenakertrans No. PER.08 MEN VII 2010 tentang Alat Pelindung Diri (APD). 

 

Adapun bahan dasar pembuatan safety helmet juga berubah-ubah seiring dengan perkembangan teknologi material baru yang lebih efektif dan efisien. Dimulai dari Aspal yang dikeringkan (sebelum Tahun 1912), Kanvas Tebal (Tahun 1919), Alumunim (Tahun 1938 kecuali untuk pekerja di bidang listrik, bisa kesetrum gan), Fiberglass (Tahun 1940an), Thermoplastic (Tahun 1950an) dan High Density Polyethylene atau HDPE (sampai sekarang masih digunakan). Terdapat dua model safety helmet yang secara umum dipergunakan oleh para pekerja, model safety helmet yang pertama untuk pekerja tambang bawah tanah atau terowongan. Safety helmet ini memiliki bentuk pinggirannya lebar serta diatas lebih menonjol dengan dilengkapi gantungan atau tempat meletakkan senter. Model Safety helmet yang ke dua merupakan safety helmet yang digunakan di daerah tambang atau industri terbuka. Safety helmet ini bentuknya biasa saja atau lebih umum. 

 

Menggunakan safety helmet dengan cara yang benar akan memberikan perlindungan bagi para pekerja. Di daerah kerja seperti tambang minyak, pabrik pupuk, pabrik kimia, proyek pembangunan gedung dan lainnya biasanya menetapkan safety helmet sebagai Alat Pelindung Diri (APD) yang wajib. Karena potensi resiko yang berasal dari atas kepala banyak terdapat di lingkungan kerja seperti itu. Dalam menggunakan safety helmet, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain sebelum digunakan telitilah bahwa safety helmet tersebut dalam kondisi baik untuk digunakan, pas dan nyaman dikepala (tidak longgar dan tidak terlalu sempit), tidak rusak dan cacat. Pergunakan safety helmet dikepala dengan benar tidak miring, terlalu mendongak, menunduk, sehingga menutupi pandangan, dan tidak terbalik. Jika berada pada tempat yang tinggi dan kondisi ber angin, chain strip harus digunakan untuk menghindari safety helmet yang dikenakan terbang karena tiupan angin yang sangat kencang. 

 

Safety helmet yang sudah pernah digunakan pada saat terjadi insiden seperti benturan atau tertimpa benda yang jatuh biasanya akan mengalami kerusakan. Sekecil apapun kerusakan yang terjadi, maka safety helmet harus segera diganti dengan yang baru. Jangan menggunakan safety helmet yang sudah mengalami cacat atau kerusakan, karena safety helmet yang cacat atau rusak tidak akan maksimal dalam memberikan perlindungan bagi pekerja yang memakainya. Penggunaan safety helmet yang masih dalam kondisi bagus juga tetap ada batasannya. Rata-rata umur penggunaan sebuah safety helmet adalah 5 tahun. Tetapi itu juga sangat tergantung kepada bahan yang digunakan untuk membuat safety helmet tersebut. Setiap produsen safety helmet akan mencantumkan batas maksimum pemakaian pada safety helmet tersebut, maka periksalah dengan teliti sebelum membeli safety helmet. Hal lain yang harus diperhatikan adalah membersihkan safety helmet setelah digunakan. Hal ini dilakukan untuk menghindari rusaknya material akibat kotoran yang menempel. Pada saat membersihkan safety helmet tidak boleh menggunakan bahan kimia berbahaya karena dapat merusak lapisan dari safety helmet. Hindari paparan sinar matahari secara langsung pada saat penyimpanan safety helmet

 

Sesuai dengan standar ANSI/ISEA Z89.1-2014, bahwa setiap safety helmet memang sudah memiliki masa berlakunya masing-masing untuk menghindari penurunan daya tahan safety helmet terhadap dampak bahaya. Standar ANSI/ISEA Z89.1-2014 merupakan standar paling populer tentang masa berlaku safety helmet. Standar ini memberikan persyaratan kinerja dan pengujian untuk safety helmet industri, umumnya dikenal sebagai topi keras (hard hats). Aturan ini menetapkan jenis dan kelas safety helmet, tergantung pada jenis bahaya yang dihadapi, mencakup spesifikasi safety helmet yang dirancang untuk menawarkan perlindungan dari benturan lateral atau benturan atas saja dan memberi pemberi kerja dan pengguna fleksibilitas untuk menentukan safety helmet yang paling sesuai dengan kebutuhan di tempat kerja mereka. 

 

Dari penjelasan terkait safety helmet diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan safety helmet sangat diperlukan di lingkungan tempat kerja yang memiliki potensi bahaya. Pemilihan model dan jenis warna safety helmet juga harus disesuaikan dengan lingkungan tempat kerja dan jenis pekerjaan pada masing-masing bagain. Selain itu, perlu adanya perawatan dan pengecekan secara berkala terhadap safety helmet agar selalu dalam kondisi baik, sehingga nyaman untuk dipakai dan tidak mengurangi fungsinya sendiri serta tidak merugikan pemakainya. 

 

Semoga bermanfaat.